Untuk diperhatikan oleh para pembaca artikel di halaman ini. Jika anda ingin men-copy artikel ini dan akan anda posting di halaman lain, mohon cantumkan alamat web ini. Hal ini juga berlaku saat anda copy-paste artikel atau apapun di halaman manapun. Maka, anda wajib untuk mencantumkan alamat dimana anda menganmbil artikel tersebut.
Posted by thehariyama
at 11:27 AM on July 12, 2009
|
comments (0)
|
Transisi masa sekolah berseragam ( baca : SMA ) menuju jenjang yang lebih tinggi (baca : mahasiswa ) merupakan momentum yang berharga untuk seseorang, perubahan lingkungan, perubahan sistem, membuat sesorang memenapkan jati dirinya. Kebiasaan-kebiasaan lama yang terkungkung oleh aturan-aturan ketat, membuat seseorang seakan-akan, menjadi seseorang yang bebas lepas. Mau berbuat apapun, pilihan ada ditangannya.
Banyak disayangkan, ketika seseorang sudah mulai memasuki jenjang perkuliahan, bagaikan anak kecil dengan perahu sampan hendak mengarungi ganasnya gelombang Altantik, Bagaimana dia bisa bertahan ???
Dunia perkuliahan menuntut kita, mandiri ?berdiri di atas kaki kita sendiri?, oleh karena itu jalan seseorang bisa bermacam-macam, Ada yang menempuh jalan kiri, jalan kanan, jalan naik bisa juga jalan turun, jalan lurus, ataupun jalan berkelok-kelok, semua terserah pada masing-masing pribadi.
Patut disadari, terlepas dari semua hal tersebut di atas, kiranya seseorang harus menyadari posisi dia, tujuan, dia dan langkah-langkah yang harus dia tempuh, dengan seperti itu dia mempunyai dasar-dasar, pegangan yang dengannya dia bertahan menjadi seorang mahasiswa yang sukses.
?Bukankah kita pernah mendengar berhasilnya seorang pelaut mengarungi samudra dengan sebuah perahu kecil, dengan berbekal layar, dayung, makanan, minuman? Begitupula serang mahasiswa, dengan berbekal ilmu, akal, attitude, semangat, dan keyakinan diaduk, dicapur dengan air menjadi sebuah sebuah kata yang menjadi harapan kiat semua ????????????..? SUKSES ?
Berbekal menjadi seoorang mahasiswa yang cukup lama ?dapat dikatakan mahasiswa setengah abadi?banyak sekali hal-hal yang sebenarnya dapat di maksimalkan oleh seorang mahasiswa, namun terluput olehnya. Berikut ini beberapa hal yang dirasakan penulis terlewatkan ketika menjadi seorang mahasiswa.
? Terlena pada Awal berjumpa
Banyak mahasiswa baru ? newbie ? terlalu semangat memasuki dunia baru perkuliahan, sehingga mereka terlalu bebas, tidak mempunyai senjata dalam memasuki dunia perkuliahan. Tidak ada strategi, Tidak ada Taktik, tidak ada persiapan, dalam menghadapi dunia perkuliahan. Walhasil , Nol besar alias IP Jongkok pada semester awal ini. Ini adalah suatu awal yang berat
Apa yang Salah ???
IP yang CUMLOUDE, adalah awal yang bagus untuk mulai bertarung, usahakan hal ini dapat tercapai tentunya jangan menjadi seorang mahasiswa yang biasa-biasa ? jadilah mahasiswa yang luar biasa ? maksud saya bukan berarti menjadi mahasiswa yang sibuk dengan buku saja, introvet tak mau bergaul ? Menurut saya ini tidak benar, dan tidak seharusnya mahasiswa itu seperti ini ?, sebagaimana yang akan datang penjelasanya nanti. Tapi jadilah seoarang mahasiswa yang punya bekal, tahu medan, bawa senjata, pakai strategi, Bagaimana implementasinya ??? ?Just Up To You ?
Bagaimana solusinya :
Semester awal adalah lahan bercocok taman kita, dengan baik kita mengolah, dengan rajin kita memupuk, dengan hati-hati kita merawatnya, maka panen raya pun datang, dan hati gembira. Hendaklah seorang mahasiswa mulai mempelajari seluk beluk kampusnya, bagaimana menjadi seorang mahasiswa yang baik, bagaimana startegi menghadapi dosen, bagaimana menghadapi soal-soal, bagaimana berjumpa dengan birokrasi, bagaimana mencari teman, bagaimana mengorek informasi dari kakak angkatan, bagaimana mengalahkan teman-teman angkatan, membuat peta kekuatan teman-teman, bagaimana dan bagaimana lagi yang harus dilakukan untuk bertahan hidup disaat awal perjumpaan.
? Kurang Pergaulan Minim Pengalaman
Kelemahan seorang mahasiswa baik tua maupun muda, mempunyai kelemahan dalam hal membangun jaringan, tentunya tidak semua. Mungkin bagi teman-teman yang bertarung dengan kehidupan organisasi, menjadi seorang ogranisatoris sejati, tak sulit membangun sebuah jaringan, kekuatan lobi, kefasihan berbicara turut menjadi elemen penting dalam membangun sebuah jaringan. Akan tetapi untuk sebagian besar teman-teman yang biasa-biasa saja, membangun sebuah jaringan adalah bukan sebuah hal yang mudah, perlu kemauan, usaha, dan kesabaran. Apalagi jika seseorang tidak mempunyai jiwa terbuka, aktif mencari teman tentunya dia akan menjadi seseorang yang tertutup, jarang berteman mungkin karena punya sisi yang kurang ataupun rasa percaya diri yang rendah. Hal ini berdampak hilangnya informasi-informasi penting yang biasanya mengalir di dalam sebuah pertemanan.
Bagaimana Solusinya :
Solusi yang mudah adalah seseorang mulai menerima dan bergaul dengan banyak teman . Apakah harus semua ?? Jawabannya tentu kalau bisa ya, akan tetapi dalam pertemanan sering kali ada batasan-batasan yang dilakukan oleh seseorang dalam menerima dan membangun sebuah jaringan, yang mana hal ini akan berpengaruh terhadap banyak teman yang akan dia jadikan sebagai jaringan dia. Buka diri, jaga attitude, buat sebuah prisip-prinsip. Dan take and Give (saya masih ragu apakah setiap bentuk pertemanan dibangun diatas prinsip take and give , menurut hemat saya sesorang akan lebih diterima ketika dia memberikan bangiannya ? Give ?Dari pada dia meminta bagiannya ?Take?atau dalam kata lain seseorang yang memberikan pengorbanan kepada temannya akan lebih mudah dan banyak berhasil membangun pertemanan, walaupun ini butuh kesabaran dan tekad yang kuat).
? Lupakan Ruang Referensi yang Sedang Menanti
Buku adalah sumber ilmu, mata air yang tak pernah kering. Hendaknyakita sadar, kalaupun kita hitung waktu kita utuk membaca buku dengan waktu kita untuk kegiatan yang lain maka tentunya msih sedikit sekali porsi untuk membaca buku. Padahal di luar sana beragam buku- buku yang mengandung khasanah ilmu pengetahuan masih belum tersentuh kita, bahkan apabila kita habiskan sebagian umur kita untuk membaca buku, maka saya yakin tak sampai tutup usia, banyak buku yang belum kita sentuh.
Bagaimana mengatasi hal ini ?
Sesungguhnya di kampus terdapat satu rungan yang didalamnya terdapat ilmu-ilmu yang sudah siap jadi, enak dibaca dan banyak faedahnya. Ruang tersebut adalah Ruang referensi, Nama itulah yang diberikan di tempat penulis. Tentunya dalam ruangan tersebut tersebar banyak skripsi-skripsi, tesis-tesis, disertasi. Jurnal-jurnal yang bermutu, buku-buku yang bagus yang hendaknya layak kita baca, bahkan habiskah kita baca selama kita duduk dibangku kuliah ??. Ada beberapa hal menjadi dasar mengapa kita seharusnya menelan itu semua yang ada di sana:
Walhasil, Bukan suatu kerugian seandainy akita menghabiskan banyak waktu membaca di ruangan tersebut, tentunya tidak mengabaikan hal-hal penting yang lainnya, Daripada kita menghabiskan banyak waktu membaca buku-buku text yang tebal-tebal, yang susah kita pahami, ataupun membaca berpuluh-puluh komik yang akan tidak akan banyak mendidik kita.
? Tak Tahu Birokrasi Startegi Mati
Faktor yang satu ini berkaitan dengan pihak nonteknis dalam belajar, tentunya ?sebagaimana yang diterangkan di atas,kita perlu suatu taktik dan strategi, bukan hanya untuk menghadapi semester-semester pertama perkuliahan, bahkan sampai kita melangkah kaki kita pergi keuar, maka dibutuh kata ilmu tentang birokrasi. Mengapa hal ini begitu penting ??? Tentunya birokrasi dibuat untuk mengatur dan memperlancar kegiatan utama ?Perkuliahan?tetapi ketika kita tidak mengetahui suatu jalur birokrasinya maka akan menjadi batu sandungan kita dalam melangkah. Bagaimana Kita KRS-an, bagaimana prosedur ikut KKN, bagaimana syarat-syarat mengajukan Skripsi, bagaimana dan bagaimana ..
Bagaimana Solusinya :
Banyaklah bergaul dengan teman-teman. Tanyakan segala sesuatu mengenai jalur birokrasi kampus, dan jangan segan-segan bertanya ke Urusan TU, ataupun akademik. Kesalahan jalur birokrasi dapat mengakibatkan kita menjadi lulus tertunda, dan ini suatu kerugian yang cukup besar. Walhasil seorang mahasisiwa tidak boleh mengabaikan peranan suatu jalur birokrasi suatu sistem, ikutilah sistem maka akan semakin kita survive.
? SoftSkill Tak ada HardSkill pun tak bisa apa-apa
Kalau kita perhatikan dan kita sadari, seberapa besar sebenarnya ilmu yang kita serap dan benar-benar menjadi ilmu dibenak kita, mulai dari semester pertama kita kuliah sampai akhirnya kita melangkahkan kaki keluar. Mungkin hanya sebagian kecil ilmu yang dapat kita serap. Kalau ada oarang yang mengatakan bahwa ?selama ini kita dididik untuk mengembangkan pola pikir?, tentu saja ini pernyatan yang benar akan tetapi perlu kita ajukansuatu pertanyaan, bagaimana mungkin selama kita kuliah kita tidak mengambil manfaat yang besar dari ilmu yang diberikan oleh dosen-dosen kita?, bagaimana dapat kita katakan ketika kita ditanya selama ini kita mendapatkan apa ? Ada yang menjawab tidak dapat apa-apa . Bagaimana mungkin ini biasa terjadi??? Ini kesalahan ataupun paradigma salah yang telah mengakar, Harusnya kita mengatakan Kita menyerap sebagian besar ilmu yang diberikan. Apa dan siapa yang salah dengan semua ini ???.
Ketika keadaan sedemikian parahnya, suatu hal ayng memprihatinkan adalah suatu kenyataan bahwa sebagian mahasiswa tidak mempunyai keahlian SoftSkill yang mendukung. Hardskill Payah , Softskill apalagi. Bagaimana ini? Bukankah waktu empat tahun ini cukup untuk mengembangkan SoftSkill kita, Ada yang berupa Keahlian Bicara, Keahlian Teknik, Kemampuan Analisa, ataupun kretivitas yang sedianya hal itu tidak kita dapatkan didalam kelas. Tentunya lagi ketika kita lulus dan bersaing dengan mahasiswa lain , Spftskill menjadi modal yang tidak kecil, bisa jadi seseorang menjadi ciut nyalinya ketika tidak mempunyai Softskill apapun, bdan boleh jadi seseorang menjadi lebih PD ketika mengusai berbagai macam softsklill, oleh karena itu maka perhatikanlah hal ini wahai para mahasiswa.
Ini lah beberapa hal yang terlintas di benak penulis ketika duduk di depan komputer ini, Jelas masih banyak lagi diluar sana, dan mungkin pula ada yang tidak setuju, Perkara dalam hal tersebut adalah luas (Al Amru Waasiu), mudah mudahan bermanfaat untuk memajukan peradaban begerasi Muda Bangsa, Sudah selayaknya setiap muda memikirkan mau kita apakan bangsa ini kedepan, Tentunya kita tidak rela dengan terjajah selama 4,5 abad Bukan ? Tentunya kita kita tidak rela dengan penjajahan ekonomi yang mencengkram ini ?? Tunggu berapa lama lagi wahai pemuda, kita bisa merdeka ??
Posted by thehariyama
at 08:34 AM on July 12, 2009
|
comments (0)
|
Hacker adalah orang yang mempelajari, menganalisa, dan selanjutnya bila menginginkan, bisa membuat, memodifikasi, atau bahkan mengeksploitasi sistem yang terdapat di sebuah perangkat seperti perangkat lunak komputer dan perangkat keras komputer seperti program komputer , administrasi dan hal-hal lainnya , terutama keamanan.
Terminologi hacker muncul pada awal tahun 1960 -an diantara para anggota organisasi mahasiswa Tech Model Railroad Club di Laboratorium Kecerdasan Artifisial Massachusetts Institute of Technology (MIT). Kelompok mahasiswa tersebut merupakan salah satu perintis perkembangan teknologi komputer dan mereka berkutat dengan sejumlah komputer mainframe . Kata hacker pertama kalinya muncul dengan arti positif untuk menyebut seorang anggota yang memiliki keahlian dalam bidang komputer dan mampu membuat program komputer yang lebih baik ketimbang yang telah dirancang bersama.
Kemudian pada tahun 1983 , istilah hacker berubah menjadi negatif. Pasalnya, pada tahun tersebut untuk pertama kalinya FBI menangkap kelompok kriminal komputer The 414s yang berbasis di Milwaukee AS. 414 merupakan kode area lokal mereka. Kelompok yang kemudian disebut hacker tersebut dinyatakan bersalah atas pembobolan 60 buah komputer, dari komputer milik Pusat Kanker Memorial Sloan-Kettering hingga komputer milik Laboratorium Nasional Los Alamos. Satu dari pelaku tersebut mendapatkan kekebalan karena testimonialnya, sedangkan 5 pelaku lainnya mendapatkan hukuman masa percobaan.
Kemudian pada perkembangan selanjutnya muncul kelompok lain yang menyebut-nyebut diri hacker, padahal bukan. Mereka ini (terutama para pria dewasa) yang mendapat kepuasan lewat membobol komputer dan mengakali telepon (phreaking). Hacker sejati menyebut orang-orang ini 'cracker' dan tidak suka bergaul dengan mereka. Hacker sejati memandang cracker sebagai orang malas, tidak bertanggung jawab, dan tidak terlalu cerdas. Hacker sejati tidak setuju jika dikatakan bahwa dengan menerobos keamanan seseorang telah menjadi hacker.
Para hacker mengadakan pertemuan setiap setahun sekali yaitu diadakan setiap pertengahan bulan Juli di Las Vegas. Ajang pertemuan hacker terbesar di dunia tersebut dinamakan Def Con. Acara Def Con tersebut lebih kepada ajang pertukaran informasi dan teknologi yang berkaitan dengan aktivitas hacking.
Hacker memiliki konotasi negatif karena kesalahpahaman masyarakat akan perbedaan istilah tentang hacker dan cracker . Banyak orang memahami bahwa hacker lah yang mengakibatkan kerugian pihak tertentu seperti mengubah tampilan suatu situs web (defacing), menyisipkan kode-kode virus dsb. Padahal, mereka adalah cracker. Cracker lah menggunakan celah-celah keamanan yang belum diperbaiki oleh pembuat perangkat lunak ( bug ) untuk menyusup dan merusak suatu sistem. Atas alasan ini biasanya para hacker dipahami dibagi menjadi 2 golongan White Hat Hackers , yakni hacker yang sebenarnya dan cracker yang sering disebut dengan istilah Black Hat Hackers .
Posted by thehariyama
at 08:01 AM on July 12, 2009
|
comments (0)
|
Pada abad ke 21, komputer menjadi suatu media yang sangat konvensional di dunia, terlebih dengan teknologi lain yang telah ditanamkan di dalamnya yaitu jaringan Internet. Jaringan Internet adalah jaringan komputer yang mampu menghubungkan komputer di seluruh dunia sehingga informasi, berbagai jenis dan dalam berbagai bentuk dapat dikomunikasikan antar 6 belahan dunia secara instan dan global . Teknologi informasi telah membuka mata dunia akan sebuah dunia baru, interaksi baru, market place baru, dan sebuah jaringan bisnis dunia yang tanpa batas.
Disadari betul bahwa perkembangan teknologi yang disebut internet, telah mengubah pola interaksi masyarakat, yaitu; interaksi bisnis, ekonomi, sosial, dan budaya. Internet telah memberikan kontribusi yang demikian besar bagi masyarakat, perusahaan / industri maupun pemerintah. Hadirnya Internet telah menunjang efektifitas dan efisiensi operasional perusahaan, terutama peranannya sebagai sarana komunikasi, publikasi, serta sarana untuk mendapatkan berbagai informasi yang dibutuhkan.
Lalu bagaimana dengan bumi Nusantara alias Indonesia kita ini? bahkan krisis ekonomi ini tidak dapat menghalangi pengaruh dari Globalisasi teknologi dunia ini. Sebab dengan penerapan IT maka semakin besar peluang masyarakat untuk mengakses komputer dan jaringan Internet beserta kandungan informasi yang ada di dalamnya. Walaupun belum mampu melayani seluruh rakyat Indonesia, tetapi prosentasi masyarakat yang akan terlayani akan jauh lebih besar dari keadaan sekarang ini sebab di prediksikan oleh para ahli bahwa IT akan memiliki potensi yang besar di Indonesia.
Menurut data IDC (Internet Indo Data Centra Indonesia), ada sekitar 196 juta pengguna Internet di seluruh dunia sampai akhir tahun 1999, dan menjadi 502 juta pengguna pada tahun 2003. Kemudian kegiatan berinternet akan bertambah dua kali lipat setiap 100 hari, dan diperkirakan pada tahun 2005 sebanyak 1 milliar penduduk dunia akan tergabung dan terhubung satu sama lian melalui jaringan Internet.
Perkembangan penggunaan Internet di Indonesia tidak pula kalah mengesankannya dengan ramalan IDC tersebut. Angka statistik yang disajikan diatas cukup mengejutkan mengingat secara keseluruhan internet relatif baru dikenal oleh masyarakat Indonesia, bahkan pada tahun 1996 dimana masyarakat Indonesia umumnya baru saja mengenal internet, kurang dari sepersepuluh jumlah pengguna massa sekarang, dan frekuensi pemakaiannya pun cenderung rendah. Namun internet sebagai suatu variabel? di Indonesia telah mengalami perkembangan yang signifikan.
Kronologis tahun-tahun perkembangannya adalah sebagai berikut : Pada tahun 1995, Pusat Industri dan Perdagangan Lembaga Pengembangan Kewirausahaan Bina Mitra Sejahtera mendata bahwa ada sekitar 10.000 pengguna yang tersambung ke Internet, dan pada tahun 1997 angka itu menjadi 100.000. Kemudian menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pengguna internet di Indonesia pada akhir tahun 2001 mencapai 2,4 juta orang. Meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan angka pada akhir tahun 200 sebesar 1,9 juta orang. Pengguna sebanyak 2,4 juta orang tersebut terdiri dari 550 ribu pengguna perumahan, 26 ribu pengguna perusahaan, 2000 sekolah dengan rata-rata 500 pengguna/siswa persekolah, 500 perguruan tinggi dengan rata-rata 1000 mahasiswa per kampus dan 2500 warnet dengan rata-rata 100 orang pelanggan perwarnet.
Sumber : http://www.anfidz.wordpress.com/